Maria Kristin dan Aprilia Yuswandari

Ditulis untuk Tempo, 25/Apr/2008 21:21:05

Maria Kristin Yulianti
“Kita lihat saja nanti.”

Merebut kembali Piala Uber adalah cita-cita Indonesia, tak terkecuali bagi Maria. Memperbaiki prestasi tim putri adalah mimpi yang sangat ingin diwujudkannya. Memegang gelar sebagai pebulutangkis putri nomor satu Indonesia menjadikan harapan banyak orang terbebankan pada dirinya.

Tahun ini bukan kesempatan pertama bagi Maria untuk membela Indonesia dalam tim Uber. Pada kesempatan sebelumnya, ia dan timnya gagal menguasai keadaan. Mereka pulang dengan tangan hampa. Meski demikian gadis kelahiran kota Tuban ini tak hendak kecewa, apalagi putus asa.

Kali ini ia justru bertanding lagi, sebagai pemain tunggal putri pertama. Tantangan ini diterima tanpa gentar. “Ini adalah tanggung jawab besar saya untuk negara,” ujar pengagum Susi Susanti ini mantap.

Peluh masih menetes di wajahnya yang tirus. Usai menempa teknik permainan di lapangan hijau, ia masih harus memperkuat ketahanan fisik bersama pelatih dari Australia, Jason Kurfurst. Lelah? “Saya sih sudah biasa,” jelasnya disela-sela latihan di Cipayung Kamis 24/4 lalu.

Maria Kristin Yulianti, dibesarkan ditengah keluarga yang mencintai bulutangkis. Ayahnya, adalah seorang pelatih bagi anak-anak yang ingin belajar memainkan raket. Ia dan adiknya telah akrab dengan lapangan sejak masih sangat muda. Umur 11 tahun Maria kecil sudah masuk asrama khusus atlit. Ya, prestasi bulutangkis Maria memang terbangun dari hasil latihan keras sepanjang hidup.

Tahun 2002, wakil Jawa Tengah dalam PON itu mengemasi barangnya untuk tinggal di Pelatnas Bulutangkis, Cipayung. Sejak itulah kiprahnya di arena bulutangkis mulai bercahaya. Berbagai medali disabetnya, termasuk medali emas pada Sea Games Korat 2007. Pelan tapi pasti pebulutangkis kelahiran 25 Juni 1985 ini mencatatkan diri dalam peringkat dunia. Saat ini ia bercokol di peringkat 24.

Maria mengakui bahwa peringkatnya sekarang turun jauh dari pencapaiannya tahun lalu. Pada 2007 ia sempat singgah pada posisi 14 dunia. “Sejak akhir tahun lalu performa saya menurun,” katanya mengakui. Cedera pada kakinya ia sebut sebagai salah satu faktor penyebab kemunduran performanya.

Beberapa tahun lalu usai latihan, Maria merasakan nyeri luar biasa pada lutut kanannya. Padahal ia tidak merasa pernah terjatuh atau terkilir. Ternyata, sendi lututnya mengalami gangguan. Terapi telah dilakukan untuk menjadikan Maria sehat kembali seperti semula, namun belum berhasil.

Saat pertandingan di Dutch Open 2006, nyeri itu mengalahkannya sampai tak dapat menggerakkan kaki. Beruntung giliran Indonesia bertanding telah usai. Hari-hari selanjutnya ia habiskan hanya dengan duduk mengamati kawan-kawannya berlatih.

Berbagai terapi telah dijalaninya, namun rasa sakit itu tak kunjung hilang. “Saat rasa nyeri itu datang saat bertanding, saya berusaha untuk menumpukan berat badan pada kaki kanan,” jelasnya.

Meski begitu, gadis penggemar makanan laut itu tak ingin menjadikan cederanya sebagai alasan. Ia juga mengaku tidak takut jika sakitnya bertambah parah. “Masa bodoh. Tetap saya paksakan bertanding,” katanya sambil mengelus kakinya.

Selain cedera yang menghambat, ia menilai kematangan dirinya masih kurang. Hal ini menimbulkan keuntungan untuk pihak lawan yang menjadi sering mengambil alih kendali permainan.

Tak hanya paham akan kekurangannya, Maria juga telah melihat kelebihan yang dapat ia andalkan. Pukulan-pukulan tajamnya adalah senjata andalan ketika menghadapi lawan. Gadis itu juga menilai permainannya unggul dalam hal pertahanan.

Prestasi tim putri yang dianggap lebih rendah tim putra justru dianggapnya kelebihan. “Orang tak mengharapkan kami juara. Saya jadi merasa tidak terbebani dan bisa bermain dengan santai,” jelasnya. Maria merasa dirinya dapat bermain dengan maksimal saat merasa tak terbebani.

Menjadi pemain putri terbaik di negara ini juga tak dirasakannya sebagai beban. Gadis rendah hati ini tak merasa punya nama besar. “Saya hanya lebih beruntung dibanding teman-teman lain,” katanya sambil tersenyum.

Ia mencoba menganalisis kekuatan tim Uber. “Secara logika, sulit untuk menang,” tegasnya. Walaupun begitu ia optimis mengalahkan Belanda. Jepang juga tak dianggapnya lawan yang terlalu tangguh karena ia sudah sering bertemu dengan pebulutangkis negeri sakura itu. Jika Jepang dan Belanda dapat ditaklukkan, Indonesia dapat menjadi juara grup. Setelah jadi juara grup?

“Kita lihat saja nanti,” tantangnya mengakhiri pembicaraan.

[Famega Syavira]

Olahraga: Thursday, 10/Apr/2008 21:23:33

Aprilia Yuswandari
“Juara dunia dua tahun lagi.”

Anak kecil itu menatap teman-teman sebayanya yang sedang bermain-main dengan raket. Ia senang melihat lincah bulu-bulu angsa yang dilempar-lemparkan kian kemari. Sang ayah rupanya memperhatikan sorot mata anaknya yang berbinar kala menyaksikan pertandingan bulu tangkis. Pak Zazuli lalu mendaftarkan sang anak untuk ikut dalam klub bulutangkis.

Aprilia Yuswandarini, berlatih bulutangkis sejak umur tujuh tahun. Saat itu dia masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar Pundung 2 Bantul. Mulanya ia tak berniat untuk menjadikan bulutangkis sebagai bagian dari kehidupan. Ikut klub bulutangkis hanya dilakoninya sebagai pemuas rasa penasaran sembari mengisi waktu luang.

Seperti anak-anak yang lain, saat kecil Aprilia bercita-cita ingin menjadi dokter. Namun rasa sukanya terhadap bulutangkis makin menguat, membuatnya melupakan cita-cita untuk mengobati orang sakit.

Turnamen demi turnamen junior yang diikuti oleh gadis berwajah manis itu membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Menjadi bintang bulutangkis lokal mengantarkannya pada tawaran untuk berlatih di Pusdiklat Bulu tangkis Semen Gresik. Ketika itu gadis yang mengidolakan Susi Susanti ini sudah duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Tak terasa sudah enam tahun Lia, demikian dia biasa dipanggil, menggeluti dunia bulutangkis. Gambaran masa depan sebagai seorang pebulutangkis makin jelas terbayang di matanya.

Pebulutangkis tunggal ini dihadapkan pada dua pilihan. Menekuni bulutangkis secara serius dengan resiko berpisah dengan kedua orangtuanya, atau tetap bersama orang tuanya dan melewatkan kesempatan baik yang telah dinanti-nantikannya. Tentu saja ia memilih untuk menekuni bulutangkis, dan pindah ke Gresik.

Beberapa tahun menimba ilmu di Gresik, prestasinya rupanya terus meningkat. Berbagai gelar juara disabetnya, antara lain Pemenang Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior di Jerman dan runner up Kejuaraan Bulutangkis Junior di Belanda. Lolos seleksi Pelatnas membawanya langsung menuju Pelatnas Bulutangkis di Cipayung, Jakarta, pada tahun 2006.

Lia dikenal sebagai pribadi yang ceria oleh kawan-kawannya di Cipayung. Ia gemar melontarkan permainan-permainan yang mengundang tawa di sela-sela latihan. Saat sesi pemotretan oleh fotografer Tempo pun, ia tak henti-hentinya bercanda dengan kawan-kawannya. Gadis penggemar gulai kambing ini juga masih berhubungan baik dengan lawan mainnya saat bertanding di luar negeri. “Kami sering saling menyapa di Friendster”, jelasnya.

Ia bertekad akan terus bermain bulutangkis sampai tak sanggup lagi bermain. Ia mengaku sangat ingin menjadi juara dunia bulutangkis. “Saya akan jadi juara dunia dua tahun lagi,” tekadnya yakin saat ditanya kapan ia akan mewujudkan cita-citanya itu.

Untuk itu ia memacu dirinya untuk giat berlatih meskipun kadang-kadang bosan. “Kadang-kadang sampai lebih dari bosan,” ujarnya. Saat bosan itu ia berusaha mengalihkan perhatian dan waktunya untuk hal lain di luar latihan bulutangkis. Membaca komik adalah kegiatan yang paling disukainya. Ia mengikuti sepak terjang Conan si detektif karangan Aoyama Gosho setiap serinya. Setelah puas membaca, kembalilah ia pada lapangan dan raket. Pada PON Kalimantan Timur besok, penggemar Harry Potter ini akan mewakili Jawa Timur.

Meski jam terbangnya tinggi, pebulutangkis dengan berat 57 kg ini mengaku masih sering merasa demam panggung. “Apalagi kalau lawannya sebaya dengan saya”, akunya. Lawan yang lebih tua justru membuatnya lebih tenang dalam bermain karena merasa permainannya tidak terbebani.

Kemauan yang keras tergambar pada dirinya. Ketika ditemui Tempo, Lia sedang mengalami cidera pada lengan kanannya. Lengannya memerah dan bengkak. Meski cedera saat berlatih, ia tak kapok. Latihan hari itu tetap dijalaninya meski dengan porsi yang dikurangi. “Agak sakit kalau digerakkan, tapi masih bisa ditahan,” katanya mantap. Usai latihan, ia mengompres sendiri lengannya dengan kantung es.

Cidera ini pula yang membuatnya gagal membela Indonesia sebagai tunggal keempat pada kejuaraan Piala Uber yang akan digelar pada bulan Mei mendatang. Ia tidak dapat mengikuti seleksi. “Saya kecewa, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya pasrah. Saat ini ia harus berkonsentrasi pada penyembuhan cideranya sebelum dapat meniti jalannya menuju juara dunia.

Nama: Aprilia Yuswandari
Nama panggilan: Lia
Tempat, tanggal lahir: Bantul. 24 April 1988
Nama ayah: Zazuli
Nama ibu: Sri Sukarmi
Alamat rumah: Kradenan, Girirejo, Imogiri, Bantul
Agama: Islam

One thought on “Maria Kristin dan Aprilia Yuswandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>