Angkringan

Sebenarnya tukang copas artikel itu ada baiknya juga sih. Soalnya, saking banyaknya tulisan yang pernah saya tulis, kadang jadi lupa pernah nulis itu. Misalnya, hari ini saya google nama sendiri, lalu menemukan sebuah tulisan lama yang dicopas sama salah satu blog. Saya nggak inget pernah nulis ini, tapi saya inget pernah ngobrol sama Mbok Sipon, pada sebuah sore yang mendung dan hujan rintik-rintik. Rupanya benar sih, tulisan adalah kulkas pengawet ingatan. Harus rajin-rajin nulis dong kamu cya. Iya.

Tulisannya di bawah ini:

Angkringan, Tempat Kumpul Komunitas

Mengunjungi angkringan atau ngangkring adalah hal yang wajib Anda lakukan saat mengunjungi Yogyakarta. Gerobak dengan tutup terpal berwarna oranye ini mudah ditemukan di sudut-sudut kota, dan memiliki sesuatu yang khas yang tak akan Anda dapatkan di angkringan kota lain. Apakah itu?

Dari segi sajian, hampir semua angkringan memang sama saja. Di atas gerobak itu Anda bisa mendapatkan menu andalan angkringan nasi kucing — sekepal nasi dengan lauk sekutil yang dibungkus daun pisang. Porsinya yang kecil itu memancing gurauan orang “Kok seperti porsi makanan kucing” — dan jadilah ia dinamakan nasi kucing.

Lalu ada pula aneka gorengan. Anda juga bisa menyantap sate usus, sate telur puyuh, sate ceker, atau kepala ayam. Terakhir, menu lain yang pasti ada di setiap angkringan, tentu saja, teh manis panas, susu jahe, dan kopi.

Lalu apa bedanya angkringan di Yogya dengan kota lain?
“Langganan saya selalu datang berombongan dengan teman-temannya,” kata Sipon, 45 tahun, penjual angkringan di dalam kampus Universitas Islam Indonesia.

Sipon menambahkan, pengunjung angkringannya terdiri dari beragam kelompok. Ada komunitas teater mahasiswa, resimen mahasiswa, atau unit kegiatan mahasiswa lainnya. Mereka kerap menghabiskan waktu berjam-jam dengan berdiskusi di angkringan Sipon.
“Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan, karena terlalu sibuk melayani mereka,” kata Sipon sambil terkekeh.

Setiap malam, setelah waktu isya, angkringan Sipon mulai ramai dikunjungi pelanggannya. Mereka akan betah ngangkring berjam-jam sampai angkringan itu tutup pukul 01.00 dini hari. Pada hari-hari ramai, ia bisa menghabiskan 3 kg gula pasir untuk menyuguhi pelanggannya.

Sementara Sipon berjualan, suaminya memasak dan menggoreng di rumah. Angkringan Sipon punya sajian andalan di luar “menu standar”, yakni nasi ayam bakar yang disajikan dengan piring.

Mulai berjualan sejak sembilan tahun yang lalu, Sipon merasakan betul betapa pengunjung angkringannya telah menjadikan gerobaknya itu sebagai pusat bertemu untuk mengobrol, berdiskusi, atau sekadar bersantai.

Ya, angkringan di Yogyakarta menjadi simpul penting tempat bertemunya komunitas.

Oleh Famega Syavira Putri

One thought on “Angkringan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>