Jakarta Kota Mal

Ada 173 mal di Jakarta. Seratus tujuh puluh tiga!

Jumlah ini tak pernah berhenti membuat saya bengong. Kalau malnya saja ada 173, berapa luasnya? Berapa jumlah pengunjungnya?

Ada infografis menarik buatan Lamudi tentang 173 mal di Jakarta itu. Menurut riset Lamudi, lahan ritel yang ditempati mal menempati 4 juta meter persegi. Sama dengan sembilan kali luas Vatikan. Padahal Vatikan itu negara lho.

Mal yang paling luas kota Kasablanka, 195 ribu meter persgi. Meski demikian, mal yang paling populer ternyata adalah Central Park di Jakarta Barat. Pengunjungnya lebih dari 2,9 juta orang per bulan. Atau rata-rata hampir 100 ribu orang per hari.

Dengan perkiraan mal buka 12 jam dari jam 10.00-22.00, artinya ada 8 ribu orang setiap jam masuk ke Central Park. Alias 134 orang per menit. (Capek juga ya jadi sekuriti pemeriksa tas di pintu mal.)

Posisi kedua ada Mal Kelapa Gading yang didatangi lebih dari 2,5 juta orang per bulan. Meski berada di lokasi yang selalu macet, mal Kota Kasablanka menjadi nomor 3, dengan pengunjung lebih dari 2 juta orang setiap bulan. Gandaria City dan Grand Indonesia menyusul dengan pengunjung 1,8 juta setiap bulan.

Rata-rata waktu yang dihabiskan pengunjung di mal adalah 3 jam.

Dengan jumlah pengunjung sebanyak itu dan waktu rata-rata berkunjung 3 jam, terbayang besarnya potensi ekonomi dan uang yang berputar di dalam pusat-pusat belanja itu. Masih menurut riset tersebut, mal berkontribusi terhadap 5 persen pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Jokowi sebagai gubernur sudah menyatakan akan menghentikan pembangunan mal, dan didukung oleh Ahok. Jika itu benar, jumlah mal di Jakarta tidak akan bertambah dalam waktu dekat. Semoga.

Berikut ini infografisnya:

Mal memang nyaman dan mudah. Butuh hiburan? Mal. Janjian ketemu dengan teman? Mal. Butuh membeli sesuatu? Mal. Bingung mau kemana untuk mengisi waktu dan atau kesepian? Mal.

Padahal kalau mau sedikit keluar dari zona nyaman, ada banyak sekali alternatif untuk mengisi waktu dan berbelanja selain ke mal. Banyak contoh gratisnya (kalau nggak gratis ya murah banget).

Misalnya, museum. Klise sekali ya saya bilang jangan ke mal tapi ke museum. Tapi beneran deh. Ada aktifitas asyik yang bisa dilakukan di museum. Misalnya, bisa praktek membatik dengan malam sungguhan di Museum Tekstil. Ada lomba mengetik cepat di Museum Bank Mandiri. Ada Teater Koma pentas gratis di Museum Gajah.

Jangan lupa pasar, terutama di dekat tempat tinggal. Kemarin saya senang banget pergi ke Rawa Belong yang ternyata sangat dekat dengan rumah. Bunga segarnya murah sekali dan dengan stok berlimpah ruah. Beberapa hari terakhir juga di twitter ramai soal #pasarsanta, pasar yang sudah jadi keren.

Contoh terakhir, ruang terbuka publik. Tidak banyak, tapi ada. Tadi saya baru saja pergi ke tempat yang mengingatkan saat saya pergi ke Stari Grad, jembatan legendaris di Mostar, Bosnia. Namanya Situ Gintung. Di Taman Surapati dan GBK, ada yoga gratis setiap hari Minggu (Surapati) dan Rabu (GBK). Nafsu belanja bisa disalurkan ke penjual-penjual di sekitar.

Berhenti ke mal sama sekali sungguh tak mungkin (setidaknya buat saya), tapi tetap ingat bahwa ada banyak sekali hal yang menarik di kota kita selain mal :)

Infografis dari Lamudi.

3 thoughts on “Jakarta Kota Mal

  1. selamat malam, terima ksih untuk informasinya, saya chika, mahasiswa arsitektur, saya ingin bertanya, cara menghitung jumlah pengunjung pada mall, bagaimana ya? makasi sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>