Menunggu

Bersamaku, kamu selalu menunggu.

Kutukan itu bermula sejak pertama kali kita bertemu. Kamu menungguku di Stasiun Tugu. Waktu itu aku masih mahasiswa lucu umur duapuluhdua.

Kamu menungguku lulus kuliah. Menunggui prosesi wisuda yang lama itu. Lalu menungguiku dalam proses wawancara di media ini, media itu.

Lalu aku menjadi reporter dengan jam kerja tak menentu entah kapan dimana. “Aku sudah selesai, jemput di KPK ya,” lalu saat kamu datang dan menunggu aku tiba-tiba “beritanya jadi A1 aku harus ke kantor.” Kamu juga sabar menunggu post-deadline-syndrome ku yang lebih mengesalkan dari PMS biasa (dan berlangsung setiap hari). Kamu sabar menunggu sms tak terbalas, telepon-teleponmu yang aku abaikan. Dan kamu tak pernah mengeluh.

Sampai aku pindah ke kantor baru dengan jam kerja teratur. Kalau sedang sempat dan kita bisa pulang bareng, kamu menungguiku di depan kantor. Kadang-kadang kamu cemberut juga tentu kalau aku terlalu lama tiba. Apalagi kalau alasanku “maaf aku lupa waktu. asyik bercanda.”

Kamu selalu rapi lebih dulu, lalu mengetuk pintuku. Aku si pemalas, dengan kadang-kadang yang keseringan, masih belum mandi. Belum mengeringkan rambut. Belum dandan. Belum menyiapkan bawaan. “Aku belum siap, tunggu aku, sayang,” kataku dari hari ke hari.

Toh kamu selalu menunggu. Berdiri di depan pintu, menyandang ransel yang selalu hitam, menyibukkan diri dengan telepon genggam. Lalu berujar “kamu tahu tidak ini sudah jam sembilan?”

Kamu menungguku setiap kita makan bersama. Aku mengunyah dengan lamban sambil berceloteh, setengahnyapun belum termakan saat pesananmu licin tandas. Kamu tak pernah protes, malah membantuku menghabiskan makanan.

Aku tak betah diam dan selalu pergi kesana-kemari. Dua hari, tiga hari, seminggu. Kamu tak pernah protes dan menunggu aku pulang. Apapun yang terjadi dalam perjalananku, aku selalu pulang pada pelukanmu. Lalu aku akan bercerita sambil memamerkan foto, dan kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan saat menungguku.

Kamu menunggu aku siap menikah. Sampai jadi perempuan umur duapuluhtujuh, aku masih mengulang kata yang sama seperti tiga tahun lalu. “Aku belum siap. Tunggu aku, sayang,” kataku dari tahun ke tahun.

“Sampai kapan?” tanyamu, dan aku menjawab tak tahu.

Hingga kemudian kamu lelah menunggu.

(dan aku tergugu di depan pintu – di sana tak ada kamu)

6 thoughts on “Menunggu

  1. Kalau masih saling mencintai, mungkin saatnya dirimu yang menunggu.

    Tapi memang kita harus siap dan bahagia dulu sebelum bisa bahagia dengan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>